Tampilkan postingan dengan label PAI SD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAI SD. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Oktober 2020

Kisah Amanah dari Rasulullah swt.

 




Arti dari amanah ini sendiri adalah terpercaya, setia, terpercaya atau bisa dipercaya.

Kisah Amanah dari Rasulullah SWT.

Pada usia 12 tahun, Nabi Muhammad saw. mulai berdagang ke Syam Bersama pamannya. Dalam berdagang, beliau selalu bersikap amanah (terpercaya). Barang dagangan yang dititipkan kepadanya dijaga dengan baik. Mengingat sikapnya itu, beliau mendapatkan gelar al-Amin, artinya orang yang dapat dipercaya.

AMANAH atau dapat dipercaya menjadi salah satu karakter unggulan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, sebagaimana dicontohkan Rasulallah Shallallahu alaihi wa sallam yang memiliki sifat terpuji tersebut. Amanah yang diberikan kepada Rasulullah dilaksanakan dengan baik sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada seluruh umat serta Allah Subhanahu wa ta'ala. Hal ini yang akhirnya membuat sosok Rasulullah mendapat gelar Al Amin, atau orang yang dapat dipercaya, dan tidak hanya dipercaya oleh kaum Muslimin saja melainkan juga meliputi orang-orang kafir.

Di zamannya, kisah Rasulullah Shallallahu yang begitu amanah tergambar dalam suatu peristiwa di mana beliau dipercayai sebagai orang yang mampu menjaga barang titipan atau harta berharga bagi siapa pun yang menitipkan kepadanya, termasuk orang-orang kafir, yang diketahui begitu membenci.

"Orang-orang kafir di Makkah menentang Rasulullah, mengingkari Beliau, hingga sepakat untuk membunuh Beliau. Namun ketika mereka memiliki harta yang berharga, mereka tak mendapatkan tempat yang mereka percaya untuk menitipkan harta mereka sebagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Mereka percayai Rasulullah dalam menjaga harta berharga milik mereka, dan tidak dikhianati oleh Rasulullah," ungkap Habib Ahmad bin Novel dalam ceramahnya, dikutip dari akun Youtube Muezza, Selasa (25/8/2020).

 

Sebagai umat Nabi Muhammad saw., kita harus meneladani perilakunya, misalnya:

• rajin belajar;
• menjaga nama baik orang tua kita;
• mengerjakan tugas sekolah;
• menjaga nama baik guru dan sekolah.

Kamis, 01 Oktober 2020

Memahami Makna Zakat

 


Memahami Makna Zakat

Setiap bulan Ramadan, Riri selalu mengajak Fadil, adiknya, untuk membayar zakat di masjid dekat rumahnya. ”Fadil, yuk, kita siap-siap pergi ke masjid membayar zakat fitrah!” ajak Riri kepada adiknya. Fadil masih senang bermain mobil-mobilan sehingga enggan menyahut. Kemudian, Riri menghampiri Fadil sambil berujar, ”Fadil, ayo dong, siap-siap ke masjid untuk membayar zakat fitrah!”

”Iya, Kakak, Fadil ingat, kan sekarang sudah akhir bulan Ramadan.” Riri dan Fadil membawa 2,5 kg beras yang sudah dipersiapkan ibunya. Kedua kakak beradik yang masih duduk di sekolah dasar itu mohon izin kepada ibunya untuk ke masjid membayar zakat fitrah . ”Bu, Riri dan Fadil berangkat ke masjid!” ujar Riri kepada ibunya yang sedang menjahit.

”Hati-hati di jalan, ya, Nak! ” pesan ibunya kepada Riri dan Fadil.Riri dan Fadil menuju Masjid Al-Barkah untuk membayar zakat fitrah. Di tengah jalan, Fadil bertanya kepada kakaknya, ”Kak, aku belum mengerti, zakat itu apa?” tanya Fadil yang baru duduk di kelas 3 kepada kakaknya Riri yang sudah duduk di kelas 6 SD.

”Kata Bu Mila guru agama kita, menurut bahasa, zakat bermakna membersihkan. Menurut istilah, zakat berarti mengeluarkan sebagian dari harta tertentu yang telah mencapai nisab. Jadi, zakat itu sebagian harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh umat Islam untuk diberikan kepada orang yang berhak menerimanya,” jawab Riri.

”Oh, begitu, ya, Kak! Tapi, kenapa kita harus membayar zakat?” tanya Fadil lagi kepada Riri. ”Kata Bu Mila, setiap umat Islam yang mampu wajib membayar zakat.”

”Kok, kita sekarang membayar zakat fiitrah? Kan, kita belum mampu cari uang?” ”Kata Bu Mila, zakat fitrah itu untuk membersihkan diri dan jiwa kita. Lagi pula yang menanggung zakat fitrah orang tua kita.” ”Oh, begitu, ya, Kak!” ucap Fadil. ”Fadil, ayo, masuk ke masjid!” ajak Riri kepada adiknya untuk masuk ke masjid.

Di dalam masjid, sudah banyak orang yang ingin membayar zakat kepada panitia zakat.

 

 

 

Anak Gadis yang Jujur (Aku Anak Soleh)

Assalāmu’alaikum
Anak-anak, kalian pasti suka menjadi anak yang baik, jujur, amanah, dan selalu hormat dan patuh kepada orang tua dan gurunya. Tahukah kalian, keuntungan menjadi orang yang baik? Ayo, ikuti pelajaran ini. Insya Allah kalian akan menjadi anak baik yang disayang oleh Allah.

A.    Jujur Disayang oleh Allah Swt.
à Bacalah kisah berikut ini!

Anak Gadis yang Jujur

Pada suatu malam, Khalifah Umar ditemani pengawalnya berkeliling negeri untuk melihat dari dekat kehidupan rakyatnya. Sampai di pinggiran kota Makkah, Khalifah tertarik melihat sebuah gubuk kecil.

Beliau mendengar suatu percakapan. “Anakku, malam ini kambing kita mengeluarkan susu sedikit sekali. Ini tidak cukup untuk memenuhi permintaan pelanggan besok pagi,” keluh wanita itu kepada anaknya.

Dengan tersenyum, anak gadisnya itu menghibur, “Ibu, tidak usah disesali. Inilah rezeki yang diberikan Allah kepada kita hari ini. Semoga besok kambing kita mengeluarkan susu yang lebih banyak lagi.” Namun, aku khawatir para pelanggan tidak mau membeli susu kepada kita lagi. Bagaimana kalau susu itu kita campur air supaya kelihatan banyak?”

“Jangan, Bu!” gadis itu melarang. “Bagaimanapun kita tidak boleh berbuat curang. Lebih baik kita katakan dengan jujur pada pelanggan bahwa hasil susu hari ini hanya sedikit. Mereka tentu akan memakluminya. Lagi pula, kalau ketahuan, kita akan dihukum oleh Khalifah Umar. Percayalah, ketidakjujuran itu akan menyiksa hati.”

“Bagaimana mungkin Khalifah Umar tahu!” kata janda itu kepada anaknya. “Saat ini beliau tidur pulas di istana megah tanpa pernah mengalami kesulitan seperti kita.” Gadis remaja itu tersenyum dan berkata, “Ibu, memang khalifah tidak melihat apa yang kita lakukan sekarang. Tapi, Allah Maha Melihat setiap gerak-gerik makhluknya. Meskipun kita miskin, jangan sampai kita melakukan sesuatu yang dimurkai Allah.”

Dari luar gubuk, Khalifah Umar kagum dengan kejujuran gadis itu. Ternyata, kemiskinan tidak membuatnya untuk berbuat curang. Keesokan harinya, Khalifah Umar memerintahkan beberapa orang untuk menjemput wanita pemerah susu dan anak gadisnya. Beliau bermaksud akan menikahkan putranya dengan gadis yang jujur itu.

Allah Swt. sangat senang kepada orang yang jujur, yaitu yang tulus dan
lurus hatinya, tidak curang. Misalnya, jujur mengerjakan tugas, seperti ujian atau ulangan tidak mencontek dan jujur menggunakan uang, seperti mengembalikan uang kembalian sisa belanja. Mengatakan sesuatu dengan jujur, misalnya mengakui kesalahan. Seperti pertanyaan guru, “Apakah kalian belajar di rumah?” Apabila tidak belajar, katakanlah dengan jujur “Saya tidak belajar.”

Apa keuntungan orang jujur? Allah Swt. senang dengan orang jujur. Kemudian, sikap jujur disenangi semua orang. Orang jujur selalu banyak teman dan dicari orang. Sebaliknya, Allah Swt. tidak senang kepada orang yang tidak jujur, dan orang tidak jujur akan dibenci semua orang.
                                                                            Sumber: Buku Sirah ( kisah keteladanan) Khalifah Umar bin Khattab

 


Kamis, 17 September 2020

Mengenal Allah Melalui Asma'ul Husna



Untuk bisa mengenal sesuatu biasanya melalui namanya. Demikian juga mengenal Allah. Allah Swt. Memiliki nama-nama yang baik atau dikenal dengan al-Asma’u al-husna. Nama Allah banyak, tetapi yang diperkenalkan oleh Allah kepada manusia hanya 99 nama melalui perantara wahyu, yaitu al-Qur’an.

DAFTAR NAMA-NAMA ALLAH (Asma’ul Husna) yang 99

Setiap muslim dianjurkan untuk mengingat Allah SWT dengan melafalkan asmaul husna. Berikut ini nama-nama asmaul husna beserta artinya:

1.      Ar Rahman: Yang Maha Pengasih

2.      Ar Rahiim: Yang Maha Penyayang

3.      Al Malik: Yang Maha Merajai

4.      Al Quddus: Yang Maha Suci

5.      As Salaam: Yang Maha Memberi Kesejahteraan

6.      Al Mu'min: Yang Maha Memberi Keamanan

7.      Al Muhaimin: Yang Maha Mengatur

8.      Al 'Aziiz: Yang Maha Perkasa

9.      Al Jabbar: Yang Memiliki (Mutlak) Kegagahan

10.  Al Mutakabbir: Yang Maha Megah, yang memiliki kebesaran

11.  Al Khalik: Yang Maha Pencipta

12.  Al Baari': Yang Maha Melepaskan (membuat, membentuk, menyeimbangkan)

13.  Al Mushawwir: Yang Maha Membentuk Rupa (makhluk-Nya)

14.  Al Ghaffaar: Yang Maha Pengampun

15.  Al Qahhaar: Yang Maha Menundukkan/Menaklukkan Segala Sesuatu

16.  Al Wahhaab: Yang Maha Pemberi Karunia

17.  Ar Razzaaq: Yang Maha Pemberi Rezeki

18.  Al Fattaah: Yang Maha Pembuka Rahmat

19.  Al 'Aliim: Yang Maha Mengetahui

20.  Al Qaabidh: Yang Maha Menyempitkan

21.  Al Baasith: Yang Maha Melapangkan

22.  Al Khaafidh: Yang Maha Merendahkan

23.  Ar Raafi': Yang Maha Meninggikan

24.  Al Mu'izz: Yang Maha Memuliakan

25.  Al Mudzil: Yang Maha Menghinakan

26.  Al Samii': Yang Maha Mendengar

27.  Al Bashiir: Yang Maha Melihat

28.  Al Hakam: Yang Maha Menetapkan

29.  Al 'Adl: Yang Maha Adil

30.  Al Lathiif: Yang Maha Lembut

31.  Al Khabiir: Yang Maha Mengenal

32.  Al Haliim: Yang Maha Penyantun

33.  Al 'Azhiim: Yang Maha Agung

34.  Al Ghafuur: Yang Maha Memberi Pengampunan

35.  As Syakuur: Yang Maha Pembalas Budi

36.  Al 'Aliy: Yang Maha Tinggi

37.  Al Kabiir: Yang Maha Besar

38.  Al Hafizh: Yang Maha Memelihara

39.  Al Muqiit: Yang Maha Pemberi Kecukupan

40.  Al Hasiib: Yang Maha Membuat Perhitungan

41.  Al Jaliil: Yang Maha Luhur

42.  Al Kariim: Yang Maha Pemurah

43.  Ar Raqiib: Yang Maha Mengawasi

44.  Al Mujiib: Yang Maha Mengabulkan

45.  Al Waasi': Yang Maha Luas

46.  Al Hakim: Yang Maha Bijaksana

47.  Al Waduud: Yang Maha Mengasihi

48.  Al Majiid: Yang Maha Mulia

49.  Al Baa'its: Yang Maha Membangkitkan

50.  As Syahiid: Yang Maha Menyaksikan

51.  Al Haqq: Yang Maha Benar

52.  Al Wakiil: Yang Maha Memelihara

53.  Al Qawiyyu: Yang Maha Kuat

54.  Al Matiin: Yang Maha Kokoh

55.  Al Waliyy: Yang Maha Melindungi

56.  Al Hamiid: Yang Maha Terpuji

57.  Al Muhshii: Yang Maha Mengalkulasi

58.  Al Mubdi': Yang Maha Memulai

59.  Al Mu'iid: Yang Maha Mengembalikan Kehidupan

60.  Al Muhyii: Yang Maha Menghidupkan

61.  Al Mumiitu: Yang Maha Mematikan

62.  Al Hayyu: Yang Maha Hidup

63.  Al Qayyuum: Yang Maha Mandiri

64.  Al Waajid: Yang Maha Penemu

65.  Al Maajid: Yang Maha Mulia

66.  Al Wahid: Yang Maha Tunggal

67.  Al Ahad: Yang Maha Esa

68.  As Shamad: Yang Maha Dibutuhkan

69.  Al Qaadir: Yang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan

70.  Al Muqtadir: Yang Maha Berkuasa

71.  Al Muqaddim: Yang Maha Mendahulukan

72.  Al Mu'akkhir: Yang Maha Mengakhirkan

73.  Al Awwal: Yang Maha Awal

74.  Al Aakhir: Yang Maha Akhir

75.  Az Zhaahir: Yang Maha Nyata

76.  Al Baathin: Yang Maha Ghaib

77.  Al Waali: Yang Maha Memerintah

78.  Al Muta'aalii: Yang Maha Tinggi

79.  Al Barru: Yang Maha Penderma (maha pemberi kebajikan)

80.  At Tawwaab: Yang Maha Penerima Taubat

81.  Al Muntaqim: Yang Maha Pemberi Balasan

82.  Al Afuww: Yang Maha Pemaaf

83.  Ar Ra'uuf: Yang Maha Pengasuh

84.  Malikul Mulk: Yang Maha Penguasa Kerajaan

85.  Dzul Jalaali Wal-Ikraam: Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan

86.  Al Muqsith: Yang Maha Pemberi Keadilan

87.  Al Jamii': Yang Maha Mengumpulkan

88.  Al Ghaniyy: Yang Maha Kaya

89.  Al Mughnii: Yang Maha Pemberi Kekayaan

90.  Al Maani: Yang Maha Mencegah

91.  Ad Dhaar: Yang Maha Penimpa Kemudharatan

92.  An Nafii': Yang Maha Memberi Manfaat

93.  An Nuur: Yang Maha Bercahaya

94.  Al Haadii: Yang Maha Pemberi Petunjuk

95.  Al Badii': Yang Maha Pencipta Tiada Bandingannya

96.  Al Baaqii: Yang Maha Kekal

97.  Al Waarits: Yang Maha Pewaris

98.  Ar Rasyiid: Yang Maha Pandai

99.  As Shabuur: Yang Maha Sabar

Mari Kita mempelajari Beberapa Nama Allah swt..

a. Al-Basyr



Anak-anak, tahukah kamu bahwa semua perbuatan baik atau buruk, pasti dilihat oleh Allah dengan sifat al-Basyr-Nya. Al-Basyr berarti Allah Maha Melihat. Allah Swt. mampu melihat apa saja, sampai hal sekecilkecilnya. Tidak ada yang luput sedikit pun dari pandangan-Nya.

b. Al-‘Adl 



Anak-anak, tahukah kalian arti al-‘Adl? Al-‘Adl berarti Allah Yang Maha adil. Allah Swt. menempatkan semua manusia sama di hadapanNya. Tidak ada yang ditinggikan hanya karena keturunan, kekayaan, atau jabatannya. Allah Swt. memuliakan seseorang hanya karena ketakwaannya. Takwa artinya mengerjakan yang diperintahkan Allah, dan menjauhi yang dilarang-Nya.



“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (Q.S al-Hujurat/49:13)

 

c. Al-‘Azim 



Anak-anak, pernahkah kalian meminta bantuan kepada orang lain? Jika
pernah, coba ceritakan! Manusia pasti membutuhkan orang lain, sedangkan Allah tidak membutuhkan makhluk lain. Oleh karena itu, Allah disebut
al-‘Azim. Al- ‘Azim artinya Allah Maha Agung. Hanya Allah Yang Maha Agung yang tidak membutuhkan pertolongan. Dia yang memenuhi semua kebutuhan
makhluk-Nya. Manusia membutuhkan pertolongan-Nya dan membutuhkan

pertolongan orang lain. Manusia tidak bisa hidup sendirian. Dengan memahami sifat Allah, al-‘Azim, maka kita akan selalu mengagungkan tanda-tanda kebesaran-Nya dengan cara melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.